peran perawat dalam bimbingan sakaratul maut
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran: 185)
Rogers (1970) mengatakan bahwa manusia adalah satu kesatuan utuh. Memiliki integritas diri dan menunjukkan karakteristik yang lebih dari sekedar gabungan beberapa bagian. Manusia merupakan makhluk yang utuh. Tidak hanya terdiri dari fisik saja tapi juga terdiri dari psikologi, sosiologi, dan spiritul. Sehingga peran perawat sebagai care provider haruslah holistik dalam artian memberikan perlakuan manusiawi yang keseluruhan atau tidak terfragmentasi. Perawat yang memiliki fungsi sebagai pemberi perawatan dalam pelayanan kesehatan tidak hanya berkonsentrasi untuk memenuhi kebutuhan biologis atau fisiologis tapi juga sosiologis, psikologis, dan spiritual klien. Namun, kebanyakan perawat menganggap tidak penting aspek spiritual ini. Contoh dari pemenuhan kebutuhan dasar spiritual adalah bimbingan sakaratul maut. Padahal hal ini telah dikemukakan oleh Henderson , ““The unique function of the nurse is to assist the individual, sick or well in the performance of those activities contributing to health or its recovery (or to a peaceful death) that he would perform unaided if he had the necessary strength will or knowledge”,maksudnya perawat akan membimbing pasien saat sakaratul maut hingga meninggal dengan damai.
Bahkan telah ditetapkan oleh WHO bahwa aspek agama merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO, 1984). Oleh karena itu dibutuhkan dokter, terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. Bimbingan rohani pasien merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya pemenuhan kebutuhan bio-Psyco-Socio-Spritual ( APA, 1992 ) yang komprehensif, karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual ( Basic spiritual needs, Dadang Hawari, 1999 ).
Bimbingan sakaratul maut sendiri mempunyai arti sebagai saat-saat kritis seseorang itu sedang menghadapi kematian yang sudah tidak diharapkan lagi akan kesembuhannya atau akan hidup kembali seperti biasa.
Dan sering tanpa disadari oleh seorang perawat bahwa bimbingan spiritual ini sangat dibutuhkan oleh seorang pasien terminal. Pasien terminal adalah pasien yang didiagnosis dengan penyakit berat dan tidak dapat disembuhkan lagi dimana berakhir dengan kematian, seperti yang dikatakan Dadang Hawari (1977,53) “orang yang mengalami penyakit terminal dan menjelang sakaratul maut lebih banyak mengalami penyakit kejiwaan, krisis spiritual,dan krisis kerohanian sehingga pembinaan kerohanian saat klien menjelang ajal perlu mendapatkan perhatian khusus”. Sehingga, pasien terminal biasanya bereaksi menolak, depresi berat, perasaan marah akibat ketidakberdayaan dan keputusasaan. Oleh sebab itu, peran perawat sangat dibutuhkan untuk mendampingi pasien yang dapat meningkatkan semangat hidup klien meskipun harapannya sangat tipis dan dapat mempersiapkan diri pasien untuk menghadapi kehidupan yang kekal.
Orang yang sakaratul maut perlu didampingi oleh perawat atau para ahli kesehatan, supaya yang bersangkutan tidak tersesat pada saat akhir hayatnya dan dapat meninggal dunia dengan tenang. Disini hukum seorang perawat dalam membimbing sakaratul maut menjadi wajib saat mengetahui ada pasien yang sedang dalam keadaan tersebut. Dalam konsep islam, fase sakaratul maut sangat menentukan baik atau tidaknya seseorang terhadap kematiannya untuk menemui Allah dan bagi perawat pun akan dimintai pertanggungjawabannya nanti untuk tugasnya dalam merawat pasien di rumah sakit. Dan fase sakaratul maut adalah fase yang sangat berat dan menyakitkan seperti yang disebutkan Rasulullah tetapi akan sangat berbeda bagi orang yang mengerjakan amal sholeh yang bisa menghadapinya dengan tenang dan senang hati.
Ini adalah petikan Al-Quran tentang sakaratul maut,,
” Datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.”(QS.50:19).
“ Alangkah dahsyatnya ketika orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakaratul maut.” (QS. 6:93)
Dalam Al-hadits tentang sakaratul maut..
Al-Hasan berkata bahwa Rasulullah SAW pernah mengingatkan mengenai rasa sakit dan duka akibat kematian. Beliau bertutur, “Rasanya sebanding dengan tiga ratus kali tebasan pedang.” (HR.Ibn Abi ad-Dunya)
Sebelum mengetahui apa saja yang harus dilakukan saat membimbing pasien sakaratul maut, maka perlu diketahui dulu cirri-ciri orang yang akan meninggal yaitu :
1. penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab,
2. kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
3. Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
4. Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes.
5. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.
Mengenai tanda-tanda khusul khotimah atau su’ul khotimah seseorang yang sedang sakaratul maut, Usman bin Affan perna berkata bahwa Nabi (SWT) bersabda:
1. “perhatikanlah orang yang hampir mati,seandainya kedua matanya terbelalak,dahinya berkeringat,dan dua lubang hidungnya bertambah besar,membuktikan bahwa ia sedang memperoleh kabar gembira,tetapi jika dia mendengar seperti orang yang sedang mendengkur (ngorok) atau tercekik,wajahnya pucat,mulutnya bertambah besar,berarti ia telah mendapat kabar buruk”
2. Adapun orang-orang mukmin yang sedang sakaratul maut, Nabi (SWT) telah menggambarkan dengan sabdanya:
3. “ketika menjelang roh orang mukmin dicabut,maka datanglah malaikat pencabut nyawa membawa kain sutra yang didalamnya ada minyak kasturi dan sejambak bunga yang wangi,kemudian roh orang Mukmin itu pun dicabut dengan lemah lembut seperti mencabut rambut dari adonan tepung,lalu diserukan kepadanya:
4. “Wahai jiwa yang tenteram kembalillah kepada Tuhan-Mu dalam keadaan ridho dan diridhoi dan kembalilah kepada rahmat dan kasih sayang Allah.
Beriktu ini adalah hal apa saja yang dilakukan saat bimbingan sakaratul maut :
1. Menalqin (menuntun) dengan syahadat
Sesuai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Talqinilah orang yang akan wafat di antara kalian dengan, “Laa illaaha illallah”. Barangsiapa yang pada akhir ucapannya, ketika hendak wafat, ‘Laa illaaha illallaah’, maka ia akan masuk surga suatu masa kelak, kendatipun akan mengalami sebelum itu musibah yang akan menimpanya.” Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah laaillallah dapat dilakukan pada pasien muslim menjelang ajalnya terutama saat pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir sehingga diupayakan pasien meninggal dalam keadaan husnul khatimah.
Para ulama berpendapat,” Apabila telah membimbing orang yang akan meninggal dengan satu bacaan talqin, maka jangan diulangi lagi. Kecuali apabila ia berbicara dengan bacaan-bacaan atau materi pembicaraan lain. Setelah itu barulah diulang kembali, agar bacaan La Ilaha Illallha menjadi ucapan terakhir ketika menghadapi kematian. Para ulama mengarahkan pada pentingnya menjenguk orang sakaratul maut, untuk mengingatkan, mengasihi, menutup kedua matanya dan memberikan hak-haknya.” (Syarhu An-nawawi Ala Shahih Muslim : 6/458)
2. Hendaklah mendo’akannya dan janganlah mengucapkan dihadapannya kecuali kata-kata yang baik
Berdasarkan hadits yang diberitakan oleh Ummu Salamah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda.
Artinya : “Apabila kalian mendatangi orang yang sedang sakit atau orang yang hampir mati, maka hendaklah kalian mengucapkan perkataan yang baik-baik karena para malaikat mengamini apa yang kalian ucapkan.” Maka perawat harus berupaya memberikan suport mental agar pasien merasa yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan selalu memberikan yang terbaik buat hambanya, mendoakan dan menutupkan kedua matanya yang terbuka saat roh terlepas dari jasadnya.
3. Berbaik Sangka kepada Allah
Perawat membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT, seperti di dalam hadits Bukhari“ Tidak akan mati masing-masing kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah SWT.” Hal ini menunjukkan apa yang kita pikirkan seringkali seperti apa yang terjadi pada kita karena Allah mengikuti perasangka umatNya
4. Membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut
Disunnahkan bagi orang-orang yang hadir untuk membasahi kerongkongan orang yang sedang sakaratul maut tersebut dengan air atau minuman. Kemudian disunnahkan juga untuk membasahi bibirnya dengan kapas yg telah diberi air. Karena bisa saja kerongkongannya kering karena rasa sakit yang menderanya, sehingga sulit untuk berbicara dan berkata-kata. Dengan air dan kapas tersebut setidaknya dapat meredam rasa sakit yang dialami orang yang mengalami sakaratul maut, sehingga hal itu dapat mempermudah dirinya dalam mengucapkan dua kalimat syahadat. (Al-Mughni : 2/450 milik Ibnu Qudamah)
5. Menghadapkan orang yang sakaratul maut ke arah kiblat
Kemudian disunnahkan untuk menghadapkan orang yang tengah sakaratul maut kearah kiblat. Sebenarnya ketentuan ini tidak mendapatkan penegasan dari hadits Rasulullah Saw., hanya saja dalam beberapa atsar yang shahih disebutkan bahwa para salafus shalih melakukan hal tersebut. Para Ulama sendiri telah menyebutkan dua cara bagaimana menghadap kiblat :
1. Berbaring terlentang diatas punggungnya, sedangkan kedua telapak kakinyadihadapkan kearah kiblat. Setelah itu, kepala orang tersebut diangkat sedikit agar ia menghadap kearah kiblat.
2. Mengarahkan bagian kanan tubuh orang yang tengah sakaratul maut menghadap ke kiblat. Dan Imam Syaukai menganggap bentuk seperti ini sebagai tata cara yang paling benar. Seandainya posisi ini menimbulkan sakit atau sesak, maka biarkanlah orang tersebut berbaring kearah manapun yang membuatnya selesai.
6. Membacakan Surat Yasin
Berdasarkan Hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Daud, Nasal juga Hakim dan Ibnu Hibban yang menyatakan sah dari Ma’li bin Yasar :
Artinya :
‘ Yasin adalah jantung Al-Quran, dan tidak seorang pun yang membacanya dengan mengharapkan keridhaan Allah dari pahala akhirat, kecuali ia akan diampuniNya. Dan bacakanlah ia kepada maut, yakni orang yang hendak meninggal di antaramu”
Berkata Ibnu Habban : “ Mauta maksudnya adalah orang yang telah dekat ajalnya, jadi maksudnya bukan dibacakan pada mayat. Makna ini dikuatkan oleh keterangan yang diriwayatkan dari Shafwan oleh Ahmad pada musnadnya, katanya : “ Para orang tua terkemuka mengatakan : jika dibacakan Yasin dikala seseorang hendak meninggal, maka ia akan memperoleh keridhan karenanya.”
Sedang pengarang Musnad Al-Firdaus meneruskan sumbernya pada Abud Darla dan Abu Dzar, bahwa menurut mereka Rasulallah saw. Bersabda “ setiap orang yang hendak meninggal dengan dibacakan Yasin di sisinya, ia akan diberi keringanan oleh Allah.”
Lalu jika si pesian telah meninggal, maka hendaklah perawat melakukan hal tersebut :
1. Menutupkan kedua matanya
Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Muslim yang lalu, artinya: “ bahwa Nabi saw. datang melawat Abu Salamah. Di dapatnya matanya terbuka, maka ditutupkannya, lalu katanya: “ jika nyawa seorang dicabut, akan diikuti oleh pandangannya.”
2. Menyelimutinya agar tidak terbuka dan supaya yang berubah dari pandangan
Diterima dari Aisyah ra. :
Artinya : “ bahwa nabi saw. ketika beliau wafat, jasadnya ditutupi dengan selimut yanzan.” (riwayat Bukhari dan Muslim)
Dan dibolehkan mencium mayat menurut ijma, Rasullallah saw. telah mencium mayat Usman bin Mazh’an, sedang Abu Bakar menelungkup dan meratap tubuh Nabi waktu ia wafat, lalu menciumnya di antara kedua matanya, serta berkata : “Wahai junjunganku yang kucinta…!”
3. Berdo’a
Disunatkan bagi orang mukmin mengucapakan “ inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”, serta berdo’a pada Allah, jika mengalami kematian salah seorang keluarganya. Berdasarkan hadist berikut:
Dan diriwayatkan dari Abu Hurairah oleh Bukhari bahwa Rasullullah saw. Bersabda:
Artinya :
Berfirman Allah Ta’ala : “ tak ada ganjaran yang akan ku berikan pada seorang hamba yang Kucabut nyawa kekasihnya di atas dunia, lalu diterimanya dengan hati yang sabar, kecuali surge!”
Dan diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah Ta’ala:
Artinya:
Orang-orang yang apabila mereka ditimpa suatu musibah mereka mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi raji’uun”, maka merek akan beroleh shalawat dan karunia dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beroleh petunjuk.”
referensi :
Ali,zaidin.2010.agama,kesehatan dan keperawatan. Jakarta: Trans info media